Sunday, February 19, 2017

STAY

Kali ini, aku akan menulis dalam Bahasa. Enjoy it!


Berawal di Jakarta....

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu memiliki suatu keinginan? Di sini, aku membicarakan keinginan besar, sebuah ambisi yang tak terelakkan dan kamu ingin semuanya berjalan dengan sempurna. Kamu akan mempertahankannya, bukan? Bahkan akan berjuang mati-matian untuk menggapainya. Paling tidak, mencoba. Jika memang gagal, itu urusan belakangan. Akan lebih menyesal rasanya jika tidak mencoba sesuatu yang kamu ingin coba daripada gagal namun kamu sudah mencobanya. 
Sehingga, aku memutuskan untuk tetap stay and try everything.


Lulus tepat waktu (tidak kurang, tidak lebih) dan segera menginjakkan kaki di Jakarta adalah impianku sejak dulu. Menginjakkan kaki, bukan hanya sekedar untuk gengsi-gengsian supaya tidak dipandang sebelah mata. Bukan, bukan itu tujuanku. Namun, ambisiku yang menggebu-gebu ini menggiringku ke ibukota untuk meniti karir dan impian.

Mengalami masa menjadi sarjana pengangguran, yang hampir setiap hari bahkan setiap jam membuka email berharap akan ada panggilan pekerjaan, sudah aku alami kurang lebih 2 tahun yang lalu. Merasakan macetnya perjalanan, terjebak di dalam bus transjakarta dan gonta ganti angkot (saat itu ojek online belum begitu meledak di pasaran sehingga belum banyak yang menggunakan) yang berujung pada 'gagal tes dan interview' juga sudah aku rasakan.

Hingga suatu hari, seseorang yang tadinya aku anggap sebagai penyemangatku berkata, "Pulang saja. Cari pengalaman di Jogja. Kamu bukan orang yang cukup tangguh untuk hidup di Jakarta." - begitu kurang lebih perkataannya jika dirangkum dalam 3 kalimat.

Sakit hati? Iya. Tapi, apakah aku menyerah dan kemudian pulang tanpa membawa hasil apapun? Tidak. Aku yakin karirku dimulai di sini. Aku yakin kota yang digadang-gadang orang sebagai kota yang keras dan jahat ini akan membawa banyak perubahan untuk hidupku. Aku yakin.
Sehingga, aku memutuskan untuk tetap stay.

Pada akhirnya, aku mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan title sarjana di belakang namaku. Kala itu, tahun 2015, aku seorang HR Officer di salah satu perusahaan media di Indonesia. Hampir setahun aku bekerja di sana, namun aku tidak merasakan suatu panggilan. Hati nuraniku berontak dan menginginkan pekerjaan lain. Aku merasa tidak nyaman melakukan pekerjaan tersebut. Setiap hari, aku merasa waktuku berjalan lamban. Aku tidak menikmati. Di sisi lain, aku terkena suatu penyakit kambuhan saat itu. Salah satu penyakit yang menuntutku untuk banyak beristirahat. Keluargaku menyuruhku untuk kembali ke Jogja mengingat kesehatanku yang membutuhkan orang-orang terdekat berada di sampingku (aku adalah wanita single, belum memiliki pasangan). Mereka juga mengetahui ketidaknyamananku dalam proses meniti karir saat itu.

Aku tidak ingin perjalanan dan ambisiku berhenti di situ saja. Aku menyadari saat itu aku sakit dan sendirian, namun ambisi dan keyakinanku begitu kuat. Aku ingin mendapatkan pekerjaan impianku, berjuang meskipun tubuhku sedikit tidak bisa diajak kompromi. Namun, aku masih bisa berjalan dan berpikir.
Sehingga, aku memutuskan untuk menyudahi masa kerjaku di perusahaan tersebut dan tetap stay di Jakarta.

Gambling. Aku tahu masa kerjaku akan berakhir di perusahaan tersebut akan tetapi aku belum mendapatkan pekerjaan di perusahaan lain.
Tuhan Maha Segalanya! Seminggu sebelum aku meninggalkan pekerjaanku, aku diterima di salah satu perusahaan creative digital advertising, sebagai Social Media Specialist, atau bisa dibilang sebagai Copywriter. Pekerjaan impian? Pasti! Hingga saat ini aku bekerja di tempat tersebut dan menikmati setiap hariku berkutat dengan dunia kreatif. Luar biasa. Kegigihan dan doaku terjawab. Begitu juga dengan sakitku. Tubuhku berangsur-angsur pulih.

Aku bersahabat dengan Jakarta. Kota yang dibilang orang sebagai kota yang jahat. Mungkin mereka terlalu banyak menonton sinetron sehingga menyebut Jakarta seperti itu. Aku tahu baik dan buruk hidup di sini. Meskipun belum terbilang lama, namun aku sudah merasakannya.





Jakarta menawarkan banyak hal. Kehidupan. Karir. Cinta.

Jika aku bisa setangguh dan segigih itu dengan ambisi karirku, bagaimana dengan hubungan romantisme-ku?
Banyak yang aku alami di kota besar ini. Hingga pada akhirnya aku menemukan seseorang yang sudah dua kali mampir ke kehidupanku. Dua kali. Dia bukan orang yang asing buatku sebelum aku tinggal di kota besar ini. Aku munafik jika menyangkal tidak memiliki perasaan yang lebih terhadapnya. Se-munafik-ku dan se-brengsek-ku, aku masih memiliki hati serta perasaan. Wanita tetap wanita. Namun, aku tahu, dirinya tidak bisa untuk dipertahankan. Mungkin aku menikmati kebersamaan kami. Kami asyik. Kami seru. Kami adalah dua orang yang memiliki ambisi dan sama-sama tenggelam dalam pekerjaan di dunia kreatif. Terdengar serasi, bukan? Tetapi, aku tidak bodoh. Meskipun perasaanku menginginkan kebersamaan, namun logikaku memilih untuk mencari jalan aman.
Kamu tidak bisa mempertahankan seseorang yang tidak bisa menghargaimu. Meskipun kamu benar-benar tulus menyayanginya dan ingin memilihnya, akan tetapi realita terkadang berbeda dengan asa.
Sehingga, aku memutuskan untuk "don't stay with him". 

Jika kamu bertanya kepadaku, "Bukankah tadi kamu bilang, lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak mencobanya sama sekali?", aku akan menjawab, "Aku sudah mencoba." Aku mundur bukan tanpa alasan. Karena aku tidak bodoh. Aku tidak buta. Hubungan yang sebenarnya dibangun bukan karena 'ada apanya'. Aku tidak menyalahkannya, karena tidak ada yang salah di kasus ini. Begitu juga perasaanku, dia tidak salah.
Ini hanya masalah apakah aku tetap stay atau tidak.

Sekali lagi, karir dan kisah cinta tidak bisa disamakan. Ambisi dan perasaan tidak bisa disatukan. Mereka memiliki jalan sendiri-sendiri. Tidak campur aduk.
Karena seorang yang dewasa bisa mengerti kapan dirinya akan stay atau merelakan yang seharusnya direlakan.