Tuesday, May 23, 2017

Taurus, Gemini

Ini adalah cerita fiksi pertama di blog-ku yang aku tulis dalam Bahasa. Jika ada hal, kejadian atau nama yang serupa, itu hanya kebetulan semata. 


"Aku tahu kamu menyenangkan, tapi kamu tidak bisa semena-mena dengan anak manusia lain!" Bentak Taurus. Tanduknya yang kokoh makin mengeras karena terlihat kesal mendengar setiap kata-kata yang dilontarkan Gemini kepadanya. 
"Apa maksudmu? Aku sudah tercipta menjadi seperti ini. Bukannya semena-mena, tapi untuk apa menjalani sesuatu yang tidak aku sukai?" Si kembar membela diri. Panas dengan tuduhan yang dilayangkan si banteng terhadapnya.
Rasi bintang lainnya hanya melihat mereka beradu mulut tanpa berani melerai. Bahkan si Scorpio yang terkenal tegas pun tidak berani ikut campur.  
"Lagipula, kamu jangan merasa dirimu saja yang benar. Itu kebiasaan burukmu. Sifat keras kepala dan egoismu juga tak kunjung berkurang. Kamu selalu memaksakan keinginanmu. Kadang, kamu terlewat ngeyel! Tidak paham jika perbuatan-perbuatanmu membuat orang di sekelilingmu khawatir." Lanjut si Gemini.
Perdebatan di galaksi itu terjadi karena anak manusia yang ada di bawah masing-masing rasi bintang tersebut mengalami sebuah pergejolakan. Si banteng merasa anak manusia di bumi yang berada di bawah rasi bintangnya merasa dirugikan oleh anak manusia di bawah rasi bintang Gemini sehingga ia tidak terima. Sedangkan si kembar tidak merasa itu bukan suatu kesalahan dan ia juga tidak terima anak manusia yang ada di bawah rasi bintangnya terus-terusan menjadi tumbal kesalahan.
“Kalian masih meributkan anak manusia bernama Sansa itu?” tanya si Pisces yang memecahkan ketegangan antar dua rasi bintang.
Taurus hanya melirik si ikan se persekian detik, kemudian pandangannya kembali pada si Gemini. Matanya tajam dan tanduknya seakan siap untuk menyerang Gemini. Sedangkan Gemini masih dengan peringai acuh tak acuhnya menatap malas ke Taurus. Mungkin ia merasa lelah terus-terusan menjadi sasaran kemarahan Taurus. Ya, karena anak manusia di bumi yang bernama Sansa itu.
“Daripada kalian berdebat terus menerus, lebih baik mencari jalan tengah. Sambil memantau Sansa dengan teman-teman dekatnya itu.” Si Libra, yang badannya tampak seperti setengah manusia setengah dewa dan selalu membawa timbangan di tangannya berusaha melerai. Ketegangan antar dua rasi bintang itu sedikit mereda.
Galaksi yang membentuk sebuah istana megah tersebut memang tempatnya para rasi bintang berkumpul. Mereka akan terus mengamati setiap anak manusia di muka bumi yang lahir di bawah rasi bintang mereka. Setiap rasi bintang memiliki singgasananya masing-masing dan di depan mereka berdiri sebuah batu kristal tempat mereka mengamati semua perilaku anak manusia di bumi. Jutaan anak manusia. Tapi, itulah tugas para rasi bintang. Jika terjadi hal-hal yang sangat tidak diinginkan pada anak manusia di bumi, mereka akan melaporkan ke Dewa Agung supaya sang Dewa membantu anak tersebut merubah takdirnya, itu pun jika alasannya cukup kuat dan sang dewa menyetujuinya. Namun, sebenarnya tidak semudah itu. Banyak yang harus dikorbankan jika si anak manusia harus mengalami perubahan takdir. Oleh sebab itu, rasi bintang harus pintar menentukan kapan mereka harus turun tangan dan kapan mereka membiarkan si anak manusia menyelesaikannya sendiri.

Sansa dan Rama sudah 3 jam berada di sebuah bar yang sering mereka kunjungi berdua. Biasanya mereka mengunjungi bar tersebut di malam minggu bersama teman-teman yang lain. Berbeda dengan ini, mereka menginjakkan kaki di bar tersebut selepas mereka pulang kerja di hari Senin. Hari di mana semua orang akan sibuk dan hampir tidak ada waktu untuk sekedar mampir ke bar.
Sansa masih menahan amarahnya dan berusaha untuk tetap tenang meskipun botol bir yang ia genggam menunjukkan kekesalannya saat itu. Sedangkan Rama berusaha tetap tenang meskipun dalam hati ia ingin segera menyelesaikan dan meninggalkan bar penuh kenangan itu.
“Terus mau kamu gimana?” nada suara Rama lemas, sudah kehabisan kata-kata untuk berdebat. 3 jam berlalu dengan perdebatan alot diselingi kebisuan yang sangat amat kaku. Bahkan si bartender yang biasanya akrab bergurau dengan mereka berdua sampai tidak berani menawarkan minuman lagi meskipun ia tahu dua tamunya tersebut butuh tambahan minum.
“Yaudah lah, kalau memang harus selesai ya selesai aja. Kalau kita memang terus-terusan seperti ini juga nggak ada ujungnya. Beda agama iya, kamu-nya juga nggak konsisten mau ke mana arahnya. Capek aku. 2 tahun kebuang percuma!” Sansa menahan air matanya. Ia tidak akan membiarkan air matanya jatuh begitu saja. Ini masalah harga diri, pikirnya.
Dalam 3 jam tersebut, entah sudah berapa kali Rama mendengar Sansa mengulang kata ‘selesai’, ‘udahan’ dan ‘putus’.
“Kalau ada yang ngajakin kamu nikah dalam waktu dekat ini, tapi orang itu bukan aku, kamu akan jawab apa, San?” pertanyaan random dari Rama terlontar begitu saja. Sansa sedikit terperanjat dan menatap Rama sendu penuh sangsi.  
“Aku jawab tidak. Kamu paham aku. Aku bukan wanita yang ingin cepat-cepat menikah.”
“Meskipun orang tersebut sudah mapan?”
“Nikah bukan cuma masalah mapan atau nggak. Aku tahu kamu pengen fokus sama freelance fotografer-mu. Tapi di sini, aku tidak melihat kamu punya niat untuk maju lebih cepat, Ram. Dua tahun bersama pula, apa pernah kamu mengenalkan aku dengan orang tuamu sebagai kekasih? Aku tahu perbedaan kita berdua menjadi penghalang, tapi setidaknya kamu membantuku untuk mencari jalan tengah. Bukan Cuma sekedar 'ayo jalani saja'. Kita hanya buang-buang waktu. Bukannya aku ingin menuntutmu untuk menikahi aku sesegera mungkin, aku juga tidak mau. Masih banyak yang ingin aku lakukan. Tapi, di usia ku yang ke-26 ini dan usiamu yang sudah 29 itu, apa kamu tidak ingin memikirkan masa depanmu sendiri? Masa depan pekerjaanmu? Masa depan kita?” Sansa sudah kehabisan kesabaran menjelaskan semua ke lelaki yang sebenarnya masih ia cintai itu.
Rama hanya bungkam. Ia ingin membela dirinya tapi kata-kata Sansa ada benarnya juga. Tapi, ia merasa tidak bisa melakukan apa yang diinginkan Sansa. Masa depannya? Ia merasa zona nyamannya akan membawanya ke masa depan, meskipun butuh waktu yang cukup lama.
“Yaudah. Kita selesai aja sampai di sini.” Jawab Rama lirih. Ia tidak berani menatap Sansa dan langsung bangkit dari kursinya menuju kasir untuk membayar minuman yang sudah mereka berdua habiskan. Air mata Sansa tidak terbendung lagi. Menetes perlahan jatuh melewati jari jemarinya yang menempel pada bibir botol bir yang ia genggam. Sesegera mungkin ia usap bekas-bekas air mata di pipinya sebelum Rama kembali ke meja tempat mereka beradu argumen.
Rama berjalan mendekati Sansa kembali. Ia duduk di sampingnya, kikuk.
“Yuk pulang. Aku antar kamu ke apartemenmu.”
“Tidak usah. Aku naik taksi aja. Kamu hati-hati di jalan.” Tanpa memandang Rama sedikit pun, Sansa berdiri meninggalkan Rama yang masih terduduk lesu meratapi kenangan di meja tersebut. Sansa meninggalkan bar penuh kenangan itu.


6 bulan setelah perpisahan Sansa dan Rama....
Sansa masih sibuk dengan handphone-nya ketika teman-temannya meributkan minuman jenis apa yang akan dibeli untuk merayakan bulan ulang tahun mereka.
“San, udahan dulu mainan HP-nya. Kamu kerja ya? Atau apa sih? Nggak ada pacar juga, mau chattingan sama siapa? Hahaha...” tuduh Deni yang memang satu hari kemarin sedang berulang tahun.
“Bentar sih ah. Aku masih cari tahu hari ini yang ulang tahun si Rama apa si Jodi.” Jawab Sansa yang masih sibuk berkutat dengan tampilan segala platform media sosial di HP-nya.
“Lagian,punya mantan hari ulang tahunnya bisa samaan semua gitu.” Timpal Monika, sahabat Sansa yang lain yang sedang merayakan hari ulang tahun juga di akhir bulan Mei selain Deni.
“Lah iya ya. Terus kalian berdua juga tuh, punya hari ulang tahun kenapa bisa dempetan di akhir Mei begini sih. Aku kan jadi bingung. Udah tahu aku lemah kalau mengingat tanggal ulang tahun yang bentuknya dua digit. Kayak aku dong, ulang tahunnya di awal Mei, jadi orang gampang ingetnya.” Jawab Sansa nyinyir. Dua sahabatnya tersebut mencubit Sansa berbarengan. Kemudian mereka berdua berhambur ke pacar masing-masing serta teman-teman yang sudah mereka undang di bar tersebut untuk memeriahkan pesta kecil mereka, meninggalkan Sansa di sofa yang masih sibuk mencari tahu siapa yang ulang tahun di tanggal 28 Mei tersebut.
Hari itu adalah hari di mana Sansa, Deni dan Monika merayakan bulan ulang tahun mereka. Sansa yang lebih dulu lahir di bulan Mei awal harus mengalah untuk menunggu merayakan ulang tahunnya sampai melewati tanggal Deni dan Monika berulang tahun, yang mana tanggal mereka ada setelah tanggal 21 Mei. Sedangkan Jodi dan Rama adalah dua mantan Sansa yang masih berhubungan baik dengannya. Padahal, Jodi adalah mantan kekasih Sansa sebelum Rama, namun hubungan mereka seperti teman yang tidak memiliki masalah apa-apa.  Apalagi Rama. Perpisahan mereka 6 bulan yang lalu, yang menimbulkan suasana dingin dan keruh, kini sudah baik-baik saja meskipun Sansa masih saja merasakan sedikit kekecewaan.
“Nah! Si Jodi ternyata. Rama masih tanggal 29.”gumam Sansa setelah puas kepo dengan semua media sosial mantan-mantannya yang sama-sama lahir di akhir bulan Mei itu. Akhirnya ia pun mencari nama Jodi di kontak whatsapp, dan mengetik ucapan selamat ulang tahun layaknya seorang teman.
“San, bebas kan minumannya?”tanya Monika yang membawa gelas berisi minuman berakohol dan langsung duduk di dekat Sansa yang kala itu mengenakan baju navy sabrinanya, membentuk lekukan anggun nan seksi di bagian pundak.
“Apa aja, asalkan jangan tequila.”
“Lah, telat! Kita pesen 3 botol tequila semua. Hahaha...”ucapan Monika penuh arti. Ia tahu sahabatnya sangat lemah dengan minuman alkohol jenis tersebut. Sansa pasrah dipaksa meneguk satu gelas kecil berisi tequila. Matanya menyipit dan dahinya mengernyit, tidak tahan dengan minuman tersebut. Kenapa tidak vodka atau yang lainnya saja sih, kutuk Sansa dalam hati.
Tak lama kemudian, Deni menghampiri mereka berdua bersama seorang lelaki yang cukup menarik untuk dipandang. Sansa sempat menatapnya tanpa berkedip ketika Deni dan temannya tersebut berada di depan meja mereka.
“San, ini Tomi. Temen kantorku yang dulu mau aku kenalin sama kamu tapi ketunda terus. Ternyata dia juga ulang tahun hari ini. Hahaha.. Gila sih ini! Aku nggak sengaja ketemu dia sama temen-temennya yang lain lagi ngrayain ultahnya juga. Iya kan, Tom?” suara Deni beradu dengan musik DJ di bar itu. Mau tidak mau, Deni harus setengah berteriak supaya setiap kata yang keluar dari mulutnya dapat didengarkan sempurna.
Tomi mengangguk sambil tersenyum ke arah Sansa. Dan, perkenalan antara Sansa dan Tomi pun dimulai.


Si banteng dan si kembar beradu pandang. Dalam sekejap mereka kehabisan kata-kata untuk berargumen, setelah mereka melihat apa yang terjadi di dalam bola kristal tersebut.
“Gemini lagi?”firasat Taurus mulai tidak enak. Kedua tanduknya seakan-akan tidak sekeras sebelumnya. Ia merasa heran. Mengapa anak manusia satu ini, yang bernaung di bawah rasi bintangnya, dekat dengan orang-orang di bawah rasi bintang Gemini. Kebetulan yang tidak masuk akal.
“Sansa memiliki daya tarik tersendiri dengan anak manusia di bawah rasi bintangku, Taurus. Aku juga melihat, keterikatan Sansa dengan mereka sungguh dekat meskipun beberapa sisi mereka berlawanan. Buktinya, Sansa bisa bertahan dengan 2 sahabat Gemini-nya yang sangat gila dan rajin memikirkan kesenangan mereka masing-masing. Tapi, mereka membutuhkan Sansa untuk mengingatkan mereka. Mengimbangi mereka. Begitu juga sebaliknya.” Suara lembut Gemini berusaha meyakinkan Taurus. Ia tidak ingin berdebat lagi dengan Taurus. Ia ingin hubungannya dengan Taurus baik-baik saja, supaya anak-anak manusia di bawah rasi bintang mereka juga baik-baik saja.
Si banteng terdiam sejenak sambil menatap bola kristal di hadapannya. Mengamati kemungkinan apa yang akan terjadi antara Sansa dan Tomi.
“Kamu punya perkiraan tentang apa yang akan terjadi dengan Sansa dan Tomi, Gemini?”
“Iya. Mereka berdua akan semakin dekat. Tomi akan merasa nyaman dengan Sansa. Namun, ia tidak berani berkomitmen. Menurutnya, Sansa terlalu dominan, tapi ia juga tidak bisa melepaskan Sansa. Padahal mereka seiman. Dan aku tidak bisa menerawangnya lebih jauh.” Ungkap Gemini setelah melakukan penerawangan ke beberapa bulan setelahnya.
“Sama. Sansa juga tidak berani berkomitmen dengan Tomi. Meskipun ia merasa nyaman. Ia merasa ada kejanggalan di diri Tomi yang masih tidak bisa ia terima. Cuma sampai di situ penerawanganku. Aku tidak bisa melihatnya lagi ke depan.” Taurus menjelaskan.
Taurus dan Gemini kembali saling pandang penuh tanda tanya. Apa yang akan terjadi dengan para anak manusia yang berada di bawah rasi bintang mereka, hanya sang Dewa Agung yang tahu. Mereka tidak bisa lagi menembusnya lebih jauh ke depan.
***

Thanks for reading. :)


Sunday, February 19, 2017

STAY

Kali ini, aku akan menulis dalam Bahasa. Enjoy it!


Berawal di Jakarta....

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu memiliki suatu keinginan? Di sini, aku membicarakan keinginan besar, sebuah ambisi yang tak terelakkan dan kamu ingin semuanya berjalan dengan sempurna. Kamu akan mempertahankannya, bukan? Bahkan akan berjuang mati-matian untuk menggapainya. Paling tidak, mencoba. Jika memang gagal, itu urusan belakangan. Akan lebih menyesal rasanya jika tidak mencoba sesuatu yang kamu ingin coba daripada gagal namun kamu sudah mencobanya. 
Sehingga, aku memutuskan untuk tetap stay and try everything.


Lulus tepat waktu (tidak kurang, tidak lebih) dan segera menginjakkan kaki di Jakarta adalah impianku sejak dulu. Menginjakkan kaki, bukan hanya sekedar untuk gengsi-gengsian supaya tidak dipandang sebelah mata. Bukan, bukan itu tujuanku. Namun, ambisiku yang menggebu-gebu ini menggiringku ke ibukota untuk meniti karir dan impian.

Mengalami masa menjadi sarjana pengangguran, yang hampir setiap hari bahkan setiap jam membuka email berharap akan ada panggilan pekerjaan, sudah aku alami kurang lebih 2 tahun yang lalu. Merasakan macetnya perjalanan, terjebak di dalam bus transjakarta dan gonta ganti angkot (saat itu ojek online belum begitu meledak di pasaran sehingga belum banyak yang menggunakan) yang berujung pada 'gagal tes dan interview' juga sudah aku rasakan.

Hingga suatu hari, seseorang yang tadinya aku anggap sebagai penyemangatku berkata, "Pulang saja. Cari pengalaman di Jogja. Kamu bukan orang yang cukup tangguh untuk hidup di Jakarta." - begitu kurang lebih perkataannya jika dirangkum dalam 3 kalimat.

Sakit hati? Iya. Tapi, apakah aku menyerah dan kemudian pulang tanpa membawa hasil apapun? Tidak. Aku yakin karirku dimulai di sini. Aku yakin kota yang digadang-gadang orang sebagai kota yang keras dan jahat ini akan membawa banyak perubahan untuk hidupku. Aku yakin.
Sehingga, aku memutuskan untuk tetap stay.

Pada akhirnya, aku mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan title sarjana di belakang namaku. Kala itu, tahun 2015, aku seorang HR Officer di salah satu perusahaan media di Indonesia. Hampir setahun aku bekerja di sana, namun aku tidak merasakan suatu panggilan. Hati nuraniku berontak dan menginginkan pekerjaan lain. Aku merasa tidak nyaman melakukan pekerjaan tersebut. Setiap hari, aku merasa waktuku berjalan lamban. Aku tidak menikmati. Di sisi lain, aku terkena suatu penyakit kambuhan saat itu. Salah satu penyakit yang menuntutku untuk banyak beristirahat. Keluargaku menyuruhku untuk kembali ke Jogja mengingat kesehatanku yang membutuhkan orang-orang terdekat berada di sampingku (aku adalah wanita single, belum memiliki pasangan). Mereka juga mengetahui ketidaknyamananku dalam proses meniti karir saat itu.

Aku tidak ingin perjalanan dan ambisiku berhenti di situ saja. Aku menyadari saat itu aku sakit dan sendirian, namun ambisi dan keyakinanku begitu kuat. Aku ingin mendapatkan pekerjaan impianku, berjuang meskipun tubuhku sedikit tidak bisa diajak kompromi. Namun, aku masih bisa berjalan dan berpikir.
Sehingga, aku memutuskan untuk menyudahi masa kerjaku di perusahaan tersebut dan tetap stay di Jakarta.

Gambling. Aku tahu masa kerjaku akan berakhir di perusahaan tersebut akan tetapi aku belum mendapatkan pekerjaan di perusahaan lain.
Tuhan Maha Segalanya! Seminggu sebelum aku meninggalkan pekerjaanku, aku diterima di salah satu perusahaan creative digital advertising, sebagai Social Media Specialist, atau bisa dibilang sebagai Copywriter. Pekerjaan impian? Pasti! Hingga saat ini aku bekerja di tempat tersebut dan menikmati setiap hariku berkutat dengan dunia kreatif. Luar biasa. Kegigihan dan doaku terjawab. Begitu juga dengan sakitku. Tubuhku berangsur-angsur pulih.

Aku bersahabat dengan Jakarta. Kota yang dibilang orang sebagai kota yang jahat. Mungkin mereka terlalu banyak menonton sinetron sehingga menyebut Jakarta seperti itu. Aku tahu baik dan buruk hidup di sini. Meskipun belum terbilang lama, namun aku sudah merasakannya.





Jakarta menawarkan banyak hal. Kehidupan. Karir. Cinta.

Jika aku bisa setangguh dan segigih itu dengan ambisi karirku, bagaimana dengan hubungan romantisme-ku?
Banyak yang aku alami di kota besar ini. Hingga pada akhirnya aku menemukan seseorang yang sudah dua kali mampir ke kehidupanku. Dua kali. Dia bukan orang yang asing buatku sebelum aku tinggal di kota besar ini. Aku munafik jika menyangkal tidak memiliki perasaan yang lebih terhadapnya. Se-munafik-ku dan se-brengsek-ku, aku masih memiliki hati serta perasaan. Wanita tetap wanita. Namun, aku tahu, dirinya tidak bisa untuk dipertahankan. Mungkin aku menikmati kebersamaan kami. Kami asyik. Kami seru. Kami adalah dua orang yang memiliki ambisi dan sama-sama tenggelam dalam pekerjaan di dunia kreatif. Terdengar serasi, bukan? Tetapi, aku tidak bodoh. Meskipun perasaanku menginginkan kebersamaan, namun logikaku memilih untuk mencari jalan aman.
Kamu tidak bisa mempertahankan seseorang yang tidak bisa menghargaimu. Meskipun kamu benar-benar tulus menyayanginya dan ingin memilihnya, akan tetapi realita terkadang berbeda dengan asa.
Sehingga, aku memutuskan untuk "don't stay with him". 

Jika kamu bertanya kepadaku, "Bukankah tadi kamu bilang, lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak mencobanya sama sekali?", aku akan menjawab, "Aku sudah mencoba." Aku mundur bukan tanpa alasan. Karena aku tidak bodoh. Aku tidak buta. Hubungan yang sebenarnya dibangun bukan karena 'ada apanya'. Aku tidak menyalahkannya, karena tidak ada yang salah di kasus ini. Begitu juga perasaanku, dia tidak salah.
Ini hanya masalah apakah aku tetap stay atau tidak.

Sekali lagi, karir dan kisah cinta tidak bisa disamakan. Ambisi dan perasaan tidak bisa disatukan. Mereka memiliki jalan sendiri-sendiri. Tidak campur aduk.
Karena seorang yang dewasa bisa mengerti kapan dirinya akan stay atau merelakan yang seharusnya direlakan. 

Monday, October 3, 2016

Follow Your Brain, Sometimes Your Heart is a Little Bit Stupid

Have you ever read or listen about brain and heart?
Have you ever read or listen about mind and feeling?
If you never talk about relation between them, let me help you to figure out.

 image by pinterest; copy by Aiya Shara

Nothing ever happens without a reason.
But if you find yourself  dying into place you've never seen before, you have to figure it out.
It is your heart.
It'll drop your body.
It'll drop your logic.
It'll drop everything you have.
You want to jump into black hole that would make you die.
You want to do something beyond your control.
You want to do silly things that will make people talk about you.
It is your heart.
Heart does not think. It just feels.

But, God is good.
God created human perfectly.
God created you perfectly.
You were given a brain.
You were given a mind.
Brain does everything good.
Brain helps you.
Brain knows what is good and what is not.
Brain knows you deserve better.
Brain knows you need help when you are tired with your life.
Brain will make you to do something that makes sense.
Brain is good.
Brain is smart.
And brain heals your wound(s).

I wasn't just talking about love, but about life. Life as a whole.
People say that you should always listen to your heart. Well, that's true.
But, are you sure your heart doesn't need your mind?

When you fall in love with someone who won't fight for you, will you still love him/her?
I think that's stupid.
Your brain isn't doing what supposed to do.

If you love your job in company that makes you lose sleep and time for your family, will you still work there?
I think that's stupid.
Your brain isn't working properly. 

So, what's the point?
Please, follow your brain because sometimes your heart doesn't know what your deserve.
I don't blame heart, I just know that your heart did everything good and for a good cause, too.
But, you still have a smart brain.
Let your brain think.
Let your brain make sense.
It'll always do the best.
To prevent your heart from doing something stupid and dying because of someone or something that doesn't make you feel good.
Please listen to your heart because it knows what you want, but still follow your brain because it knows what you need.
And then, everything will be good in the end.


content by Aiya Shara 
edited by Stefani Devita

Thursday, January 21, 2016

BEST PLAYLIST 2016 | #1 ODESZA



So grateful to come back with my blog, after long time. How are you, everybody? Still fine, right?
Before I talk about my post, I want to say HAPPY NEW YEAR 2016! Welcome to great leap year.
And, here it is. For 2016, there is something different with my blog because I'll add something new. Beside fashion or outfit,  I will share about MUSIC. Do you love music? I'm sure that everybody loves music. I guarantee people always be accompanied by music in their whole life. Some activities need music to increase their productivity. 

Well,at the first time in 2016, I'll write about my best playlist in 2016 for some posts. For the beginner, I shared ODESZA as my newest playlist in 2016. Who is ODESZA? Quoted from Wikipedia, ODESZA (stylized as ODESZA) are an American electronic music duo from Seattle consisting of Harrison Mills (CatacombKid) and Clayton Knight (BeachesBeaches). The group was formed in 2012 shortly before Mills and Knight graduated from Western Washington University. Their debut album, Summer's Gone, was released in 2012 to much acclaim in the underground electronic music community. ODESZA followed Summer's Gone with their first EP, My Friends Never Die, in 2013 and their second LP, In Return, in 2014. The duo released In Return (Deluxe Edition) on September 18, 2015 via Counter Records, an extended version of the original album plus three live recordings all featuring a horn section, instrumentals, and a new track “Light (feat. Little Dragon)”. On December 7th, 2015, ODESZA’s “Say My Name (RAC Remix)” was nominated for the Best Remixed Recording Grammy.






Why I chose ODESZA and put it to my playlist for 2016? Actually,  I really like EDM since I was a child. My father taught me to listen Trance music (which is one of genre in EDM) when I was in Junior High School. Year after year, EDM growth and there are DJs from some underground electronic music dance. One of them is ODESZA who striking new voice in EDM. At the first time I listen it, I instantly fell in love with this deep and chill instrument. Great songs!



My favorite songs in ODESZA are Say My Name, It's Only, Bloom (from In Return album, 2014), and IPlayYouListen (from Summer's Gone album, 2012). But, overall, ODESZA makes me feel the chemistry of music. I listen ODESZA, and I'll imagine what a wonderful my life! If you want feel dynamic vibe with positive rhythm, please listen to ODESZA!


Sunday, March 22, 2015

EMPTY CUP

Hi Guys. I'm back from my daily activity. Yes, now I'm in my struggle. Being mature is so hard. You know, when you  have graduated, you'd face the real life. I'm in my zero. And in my post, I want to share about being struggle, from zero to big hero.

It's an empty cup. There is nothing and looks so plain. Maybe everyone won't take it cause they think that's useless  without water on it. Or maybe someone just put it in the glass cabinet for a little display.

I am an empty cup. People think that's useless, plain, clumsy, and underestimated. They do not know it it'll become something, beautiful, and very useful. Give me time. I'll show you how to threat me. and empty cup will be filled.



OUTFIT : Red Plump-Top from LMforHardware + skinny jeans (still my simple outfit)
PHOTOGRAPHED by Wahyu Pamungkas (Canon DSLR Camera) 

Sometime, people do not know how struggle I am. They just look my weakness and my failing. Because I'm a woman or because I still have not been able to show my big achievement. But wherever I am, I always know my capability. I just need more time to show them up. Just wait, and empty cup will be filled.

Saturday, February 14, 2015

CHOOSING AND LIVING

Hay ! It has been long time I did not open my blog. So, on this occasion I'd give you some philosophy about life. Ouch, I'm forget to tell you about the best news. I have finished my study and now I have a tittle behind my name. I'm so grateful :) I'm a Bachelor Degree in Psychology UGM and I'm proud of this. 


Once upon a day, I came to a coffee shop in Yogyakarta. The coffee shop is Mooi Kitchen. That place is so comfy and you'd stay in there for a long time. But, there was something in this place that made me interested. I saw the bookshelf. It was like another bookshelf in the world and nothing special (hahaha..), but it made me thougth about something. I thought about choosing and living.
"Life is about choosing. You choose one of every stories , and make it different from another. There is no wrong choice. Believe in your choice and just do it."

 OUTFIT : Tribal-top from LMforHardware + Cream-pencil-skirt
PHOTOGRAPHED by Threanekke (with Iphone 4S)

"Finally, you chose this one . You tried to figure out what you need for doing something, what you need for making yourself being worth it to get, and learned about all mistakes. That's why it's called life. Choosing and living make your life be prodigious."

After my graduation, I know that I have to choose my way for living. It's so hard but for being mature and success woman, I must do it.How about you, guys ? :)
  

Friday, July 18, 2014

SUNDOWN CARNIVAL

There is something different for this post. I shared about event at my hometown, one of the major rave-party at Yogyakarta. Well, let me to show you :)


This event was made by Breakin Bomb Project, one of Party Organizer in Yogyakarta. They gave party's name as SUNDOWN CARNIVAL, rave party. It was occupied on Saturday, June 14 2014. You can imagine with that place in photo, how wonderfull party it was ! They took Rangdo Bamboo as a place where the party was be held. This place is at Parangtritis and you can use google map to search it.


That was preparation of stage . There were a lot of DJ performance. They would make everybody swing and dance till there's no tomorrow.


The party started from 3pm till 11pm . What was the dresscode ? Exactly ! Everything about beach party can be used !
And... Party was began ! Enjoy the crowded and feel the rave.








On this party, I didn't have many photos . So, I can't define the detail of my outfit. I just wore mini dress that can make me feel so beachy. Me and my friends took a little photo because we are too enjoyed that party. And we always fantasizing at our cities of dreams.






They are the committee for this event. Congrats, guys ! Your event was very success. I believe that people can't wait for the next event, include me. Still chill and break the party !